Iklan
TeknologiBerita

AI Bukan Pengganti Manusia, Kendali Akhir Tetap di Tangan Praktisi HR

R

Oleh

AI Bukan Pengganti Manusia, Kendali Akhir Tetap di Tangan Praktisi HR
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Redaksi Intarta)

Reading Comfort

JAKARTA - INTARTA.com - Kecemasan bahwa kecerdasan buatan akan menggeser peran manusia di dunia kerja mendapat jawaban tegas: teknologi ini hadir untuk membantu, bukan menggantikan. Pesan itu mengemuka dalam DataOn 16th Annual HR Conference 2026 yang digelar di Sheraton Grand Jakarta Gandaria City Hotel, Kamis (5/11), di hadapan ribuan pemimpin bisnis dan praktisi HR.

"Nilai AI bukan cuma soal otomatisasi, tetapi soal mempermudah keputusan dan mengantisipasi kebutuhan tim," ujar Gordon Enns, CEO DataOn. Ia menegaskan, secanggih apa pun rekomendasi yang dihasilkan sistem, manusia tetaplah pemegang kendali dan keputusan akhir.

Baca Juga:Dari Barisan Depan ke Kursi Panas: Raksasa Teknologi Hadapi Era Pengawasan Ketat

Human-Centered AI Jadi Benang Merah

Semangat Human-Centered AI itu tercermin dalam sejumlah inovasi anyar SunFish HR yang diperkenalkan dalam konferensi tersebut, antara lain Smart Scheduler hingga asisten pintar SOFIA. Inovasi-inovasi ini dirancang untuk memangkas kerumitan administrasi sehari-hari, sehingga praktisi HR punya lebih banyak waktu untuk merawat hal terpenting: manusianya.

Para pelaku industri yang hadir juga berbagi pengalaman nyata dari lapangan tentang bagaimana teknologi diterapkan tanpa mengorbankan sentuhan manusia dalam pengelolaan tim.

Baca Juga:AI Kini Membangun AI: Laporan Baru Ungkap Percepatan yang Bikin Peneliti Cemas

Yang Berubah Bagi Dunia Kerja Indonesia

Pesan dari konferensi ini relevan bagi perusahaan-perusahaan di Indonesia yang tengah mengadopsi teknologi serupa. Tim HR yang selama ini tenggelam dalam pekerjaan administratif — penjadwalan, pencatatan kehadiran, hingga pengarsipan — bisa mengalihkan waktunya ke hal yang tidak bisa dilakukan mesin: mendengarkan karyawan, menyelesaikan konflik, dan membangun budaya kerja.

Namun peringatan Gordon Enns juga patut dicatat: keputusan akhir tetap harus di tangan manusia. Perusahaan yang menyerahkan rekrutmen, penilaian kinerja, atau pemutusan hubungan kerja sepenuhnya kepada algoritma berisiko kehilangan keadilan dan konteks yang hanya dipahami manusia. Teknologi boleh mempercepat, tetapi akal sehat dan empati manusialah yang menentukan.

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…