Dari Uang Saku hingga Investasi, Ini 5 Cara Mengajarkan Warisan Sesuai Usia Anak
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - MEDAN — Membangun warisan keluarga atau legacy tidak hanya berkaitan dengan harta dan aset yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Nilai kehidupan, tanggung jawab, serta pemahaman tentang keuangan perlu ditanamkan sejak anak masih kecil.
Presiden Direktur Sun Life Indonesia, Albertus Wiroyo, menjelaskan bahwa pendidikan tentang uang dan tanggung jawab dapat diberikan secara bertahap, mulai dari pilihan sederhana saat anak menerima uang saku hingga memahami keputusan finansial yang lebih kompleks ketika dewasa. Hal itu disampaikannya, Kamis (15/10/2026).
Baca Juga:Memutus Rantai Kemiskinan Dimulai dari Cara Berpikir, Bukan dari Gaji BesarPendekatan bertahap ini sejalan dengan temuan Studi Sun Life Asia 2026 bertajuk Meneruskan Warisan: Ketika Warisan Lebih dari Sekadar Kekayaan . Dari 506 responden di Indonesia, kesempatan pendidikan dan kekayaan sama-sama masuk dalam tiga prioritas warisan teratas bagi 65% responden, sementara tradisi keluarga dipilih 47% responden.
5 Cara Mengajarkan Legacy Sesuai Usia Anak
1. Usia sekolah dasar: kenalkan pilihan sederhana. Uang saku menjadi sarana awal mengajarkan keuangan. Orang tua dapat membimbing anak membagi uang untuk kebutuhan, tabungan, dan berbagi dengan orang lain, serta memahami bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Baca Juga:Sepuluh Kebiasaan yang Membuat Kekayaan Bertahan dari Generasi ke Generasi2. Menjelang remaja: ajak membuat tujuan keuangan. Ketika anak memiliki keinginan lebih besar, orang tua dapat mengajaknya menentukan target dan jangka waktu menabung, misalnya untuk membeli buku atau perangkat belajar. Anak belajar bahwa mencapai tujuan butuh perencanaan, kesabaran, dan konsistensi.
3. Masa remaja: ceritakan perjalanan keuangan keluarga. Anak mulai mampu memahami bahwa kondisi finansial keluarga terbentuk lewat proses panjang. Cerita tentang masa sulit, keputusan keuangan yang diperbaiki, atau membangun usaha dapat menanamkan nilai kerja keras dan tanggung jawab.
4. Menjelang dewasa: kenalkan risiko dan fondasi finansial. Materi yang dibahas mencakup pengelolaan arus kas, dana darurat, tabungan, investasi sesuai tujuan dan profil risiko, serta perlindungan finansial. Tujuannya membangun kemampuan berpikir kritis, bukan mendorong pilihan produk tertentu.
5. Dewasa muda: libatkan dalam percakapan keluarga. Ketika anak telah berpenghasilan, pembicaraan dapat berkembang ke karier, investasi, aset keluarga, hingga perencanaan warisan, disampaikan bertahap sesuai kesiapan mereka.
Legacy Dibangun Sejak Dini
Pada akhirnya, mengajarkan legacy bukan sekadar satu percakapan mengenai warisan, melainkan proses panjang seiring pertumbuhan anak. Rumah, uang, dan bisnis dapat diwariskan pada waktu tertentu, tetapi pemahaman tentang tanggung jawab dan kebiasaan mengelola keuangan dibangun sedikit demi sedikit lewat pengalaman sehari-hari.
Artikel ini bersifat edukasi dan informasi umum, bukan nasihat keuangan, investasi, hukum, atau perpajakan.
Sumber: Dari Uang Saku hingga Investasi, Ini 5 Cara Mengajarkan Legacy Sesuai Usia Anak — Waspada.id
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Memutus Rantai Kemiskinan Dimulai dari Cara Berpikir, Bukan dari Gaji Besar

Sepuluh Kebiasaan yang Membuat Kekayaan Bertahan dari Generasi ke Generasi

Gaji Selalu Habis untuk Keluarga? Cara Realistis Menabung bagi Generasi Terjepit

Peluang Besar Emas di 2026 yang Banyak Orang Belum Sadari

Tabungan Darurat Dulu, Investasi Kemudian: Fondasi Keuangan yang Sering Dilompati

Gaji Rp3 Juta Bisa Investasi? Ini 7 Pilihan yang Masuk Akal Setelah Gajian
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



