Dua Jalan Berbeda Dua Raksasa Teknologi Mengejar Ambisi AI
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Dua raksasa teknologi sama-sama menikmati berkah lonjakan permintaan perangkat keras berbasis kecerdasan buatan, tetapi cara mereka membiayai ekspansi di tengah tren ini jauh berbeda. Satu mengandalkan pertumbuhan bisnis yang nyata, satu lagi memilih menggalang dana besar-besaran dari pasar modal.
Produsen komputer terbesar dunia itu membukukan pendapatan kuartal pertama yang melesat 43 persen dibanding tahun sebelumnya, mencapai 26,94 miliar dolar. Lonjakan ini didorong permintaan perangkat keras AI yang terus meningkat, sehingga perusahaan kini optimistis bisa menembus target pendapatan tahunan 100 miliar dolar lebih cepat dari jadwal.
Baca Juga:Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar DolarSegmen infrastrukturnya yang menangani perangkat keras pusat data hampir menggandakan pendapatan berkat tingginya permintaan server AI, dengan laba operasional 777 juta dolar. Antrean pesanan server AI bahkan melonjak menjadi 54 miliar dolar, lebih dari dua kali lipat dibanding tahun sebelumnya. Laba bersih yang disesuaikan pun melonjak hampir tiga kali lipat menjadi 1,075 miliar dolar.
Keuntungan Besar, tapi Tetap Mencatat Kerugian
Meski pengiriman produknya sempat menurun, perusahaan itu masih kokoh sebagai produsen PC terbesar dunia dengan pangsa pasar 24,2 persen. Namun di balik semua capaian itu, perusahaan justru mencatat kerugian bersih sebesar 609 juta dolar. Penyebabnya bukan kinerja inti bisnis, melainkan kerugian non-tunai akibat penyesuaian nilai wajar atas waran yang diterbitkan pada 2025.
Baca Juga:Saham Produsen Chip Melonjak Usai Proyeksi Pertumbuhan AI Melampaui PerkiraanDi sisi lain, pengiriman PC secara global turun 4,9 persen dibanding tahun sebelumnya, penurunan pertama setelah sembilan kuartal berturut-turut tumbuh, akibat kelangkaan chip memori yang terus mendorong harga naik di seluruh industri. Sepanjang tahun ini, saham perusahaan yang tercatat di bursa saham kawasan Asia itu sudah melonjak sekitar 275 persen, dengan 150 persen di antaranya terjadi hanya dalam kuartal Juni saja.
Saham Melejit, tapi Masih Andalkan Suntikan Dana
Berbeda dengan pesaingnya yang membuktikan pertumbuhan lewat angka operasional, produsen chip raksasa itu masih mengandalkan pendanaan dari luar untuk mengejar ambisi AI-nya. Saham perusahaan ini telah melonjak hampir tiga kali lipat sepanjang tahun, mengungguli para kompetitornya sekaligus melampaui kenaikan indeks semikonduktor yang sekitar 75 persen.
Perusahaan itu juga berhasil menggaet produsen mobil listrik ternama sebagai pelanggan untuk proses manufaktur chip generasi terbarunya. Pada Juli lalu, perusahaan menaikkan proyeksi belanja modal 2026 dari semula 18 miliar dolar menjadi 20 miliar dolar.
Sejumlah pengamat menyoroti bahwa selama bertahun-tahun perusahaan itu lebih sibuk mengutak-atik struktur keuangannya ketimbang benar-benar membangun kapasitas produksi fisik, merujuk pada aksi pembelian kembali saham senilai 82 miliar dolar sepanjang dekade 2010-an yang justru memperlemah neraca keuangannya.
Pekan lalu, perusahaan menggalang dana 20 miliar dolar lewat penawaran saham yang diperbesar untuk mendanai ekspansi manufaktur berbasis AI-nya. Penawaran itu dipatok dengan diskon 2,6 persen dari harga penutupan sebelumnya, namun sahamnya tetap anjlok lebih dari 4 persen pada hari yang sama. Dari sisi minat investor institusional, jumlah dana lindung nilai yang memegang sahamnya naik menjadi 112, dari sebelumnya 96.
Satu perusahaan tengah membuktikan bahwa lonjakan permintaan perangkat keras AI ini nyata lewat kinerja operasionalnya sendiri. Satu lagi masih dalam proses membuktikan hal serupa, dengan cara terus menggelontorkan dana besar terlebih dahulu. Artikel ini merupakan analisis pasar, bukan rekomendasi investasi.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Demi Ekspansi Kecerdasan Buatan, Raksasa Teknologi Cari Dana 20 Miliar Dolar

Saham Produsen Chip Melonjak Usai Proyeksi Pertumbuhan AI Melampaui Perkiraan

Arm Lampaui Perkiraan Pendapatan Berkat Dorongan AI dan Pusat Data

Dari Barisan Depan ke Kursi Panas: Raksasa Teknologi Hadapi Era Pengawasan Ketat

OpenAI Kini Bernilai 1,25 Triliun Dolar Usai Raih Dana Segar 11 Miliar Dolar

Raksasa AI Bersiap Melantai di Bursa di Tengah Gelombang Penolakan Publik
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



