Harga Ayam Pecah Rekor, Produsen Makanan Kotak Terpaksa Ganti Menu
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Lonjakan harga bahan pangan mulai terasa langsung di meja makan. Daging ayam yang makin mahal memaksa sejumlah perusahaan makanan mengubah isi produknya, termasuk menu andalan yang sudah bertahan puluhan tahun.
Langkah paling mencolok datang dari Kiyoken Co., produsen makanan ternama. Sejak awal Juni, perusahaan itu mengganti lauk ayam saus cabai pada menu Yokohama Fried Rice Bento, yang dibanderol 890 yen atau sekitar Rp98.000, dengan udang saus cabai. Keputusan tersebut terbilang bersejarah, karena ini adalah perubahan menu pertama mereka dalam kurun waktu sekitar 20 tahun.
Baca Juga:Ketika Menaikkan Harga Terasa BersalahJuru bicara perusahaan menjelaskan, beban biaya pengadaan sudah terlalu berat. Selain harga bahan makanan yang melambung, ongkos kemasan ikut naik signifikan, diperparah fluktuasi nilai tukar yang sulit diprediksi. Padahal, Kiyoken sempat menaikkan harga seluruh produk bentonya pada Februari lalu. Demi menghindari penolakan pelanggan akibat kenaikan harga berturut-turut, mereka akhirnya memilih mengganti bahan baku.
Rekor Harga sejak 2003
Langkah tidak biasa itu punya alasan kuat. Data Kementerian Pertanian, Kehutanan, dan Perikanan setempat menunjukkan harga rata-rata eceran paha ayam pada Juni mencapai 155 yen atau sekitar Rp17.125 per 100 gram, level tertinggi sejak tahun 2003.
Baca Juga:Laba Dua Raksasa Dagang Melonjak, Proyeksi Keuntungan Direvisi ke Rekor TertinggiMenteri Pertanian Norikazu Suzuki menjelaskan, tingginya harga dipicu meningkatnya permintaan ayam impor. Kondisi itu membuat sebagian pelaku usaha restoran beralih ke ayam produksi dalam negeri, yang pada akhirnya ikut mendongkrak harga di pasar domestik. Faktor geopolitik juga memperkeruh keadaan. Peneliti senior Sompo Institute Plus Inc, Masato Koike, memaparkan bahwa ketegangan di kawasan Timur Tengah mengganggu rantai pasok global, sehingga biaya pakan ternak dan energi ikut naik dan menekan harga jual ayam di tingkat peternak. Koike memperkirakan konsumsi daging ayam tetap tinggi, bahkan bisa meningkat tipis, karena harga daging alternatif seperti sapi dan babi juga masih bertahan di level tinggi.
Telur Ikut Melambung
Selain daging ayam, harga telur juga belum menunjukkan tanda-tanda penurunan berarti. Data kementerian terkait mencatat harga rata-rata satu pak berisi 10 butir telur campuran bertahan di angka 309 yen atau sekitar Rp34.138, menyamai rekor tertinggi yang pernah tercipta pada Mei lalu.
Meski begitu, ada sedikit kabar baik bagi konsumen dan pelaku usaha. Asosiasi Perunggasan setempat memperkirakan harga telur mulai bergerak stabil pada musim panas tahun ini. Optimisme itu didasari pulihnya populasi ayam petelur ke tingkat normal, setelah sebelumnya berkurang drastis akibat pemusnahan massal selama wabah flu burung melanda.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Ketika Menaikkan Harga Terasa Bersalah

Laba Dua Raksasa Dagang Melonjak, Proyeksi Keuntungan Direvisi ke Rekor Tertinggi

Perlambatan Ekonomi Diprediksi Lebih Tajam dan Panjang, Kenaikan Suku Bunga Kelima Membayangi

Quattrick Siverio Antar PSMS Pesta Gol 5-0 atas Rival Abadi

Axon Gelontorkan 1,2 Miliar Dolar ke Pembuat Drone Skydio, Sahamnya Malah Anjlok

Lebih dari Satu Juta Tenaga Kerja Diberdayakan lewat Program Makan Bergizi Gratis
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



