Motor Listrik Bekas Ramai Dijual, Ini Alasan dan Harga Pasarnya
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Seiring meningkatnya populasi motor listrik di jalan raya, bursa motor listrik bekas mulai menunjukkan geliat signifikan. Unit dengan beragam kondisi, dari yang jarak tempuhnya masih sangat rendah hingga yang sudah dipakai bertahun-tahun, kini semakin mudah ditemui di pasar sekunder. Pertanyaannya: apa yang membuat para pemilik memutuskan menjual kembali motor listrik mereka?
Kebutuhan Dana dan Rasa Penasaran
Adi, pengelola dealer motor listrik bekas Dablong.EV, menyebut motif paling dominan di lapangan adalah finansial. Banyak pemilik terpaksa melepas motor listriknya karena sedang membutuhkan dana cepat. Selain itu, ada pula pasokan unit yang melimpah dari hasil lelang atau tarikan lembaga pembiayaan (leasing).
Di samping alasan ekonomi, sebagian kecil konsumen menjual motornya hanya karena penasaran: membeli motor listrik sekadar mencoba teknologi baru, lalu menjualnya kembali dengan odometer masih sangat rendah. Jumlah kelompok ini relatif sedikit dibanding mereka yang menjual karena kebutuhan mendesak.
Baterai SLA yang Mulai Melemah
Faktor teknis juga memegang peranan krusial. Penurunan performa baterai menjadi keluhan yang paling kerap muncul, terutama pada model yang masih memakai baterai jenis Sealed Lead Acid (SLA) atau aki kering. Adi mencontohkan, pada motor listrik berbasis baterai SLA, termasuk beberapa tipe dari merek populer seperti Yadea, kapasitas dayanya umumnya menyusut hingga 30 persen setelah satu tahun pemakaian normal.
Penurunan performa dan jarak tempuh inilah yang sering membuat pemilik pertama memilih menjual unitnya, alih-alih mengganti komponen secara mandiri.
Depresiasi Harga yang Tajam
Masalah baterai ini berdampak langsung pada nilai jual kembali motor listrik. Depresiasinya terbilang tajam, bahkan bisa menyusut hingga lebih dari separuh harga beli baru. Sebagai gambaran, motor listrik yang harga barunya sekitar Rp 14 juta setelah dipotong subsidi pemerintah, umumnya hanya dihargai sekitar Rp 5 juta hingga Rp 6 juta di pasar bekas jika kondisi baterainya sudah menurun.
Namun jika baterai masih relatif prima atau sudah diganti baru oleh pemiliknya, harganya bisa sedikit terdongkrak ke kisaran Rp 6 juta hingga Rp 6,5 juta. Untuk menyiasati penurunan nilai ini dan menjaga kepercayaan pasar, dealer biasanya melakukan kalibrasi dan perbaikan menyeluruh sebelum memajang kembali unit tersebut, dengan langkah paling krusial mengganti paket baterai SLA yang sudah lemah dengan baterai baru.
Hal ini tentu menguntungkan calon pembeli: mereka bisa mendapatkan motor listrik dengan performa baterai layaknya unit baru, tetapi dengan harga sekunder yang jauh lebih ramah di kantong.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Laba Kuartal III Merosot, Raksasa Otomotif Pangkas Ribuan Pekerja

Lima Model Kini Kantongi Komponen Lokal 60 Persen, Baterai Jadi Fokus Berikutnya

Bukan Motor Biasa, Robot Berkaki Empat Ini Bisa Ditunggangi Seperti Kuda

45 Komunitas Otomotif Berkumpul, Mobil Lintas Generasi Tampil dalam Satu Panggung

Lima Tahap Menuju Keuangan yang Lebih Tenang Meski Gaji Pas-pasan

Kenapa Menabung Kini Terasa Lebih Berat dari Dulu?
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



