Muhammadiyah Murka Trump Jadikan Nama 'Mohammad' Bahan Candaan: Sangat Menyakitkan
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah melayangkan kecaman keras terhadap lelucon Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menjadikan popularitas nama 'Mohammad' sebagai bahan candaan saat mengejek pemerintahan Iran.
Ketua PP Muhammadiyah Anwar Abbas menilai pernyataan Trump bukan sekadar guyonan biasa, melainkan penghinaan yang nyata terhadap umat Islam.
Baca Juga:Kemenangan Telak Oposisi Dinilai Bisa Mengubah Arah Konflik yang Kian Tak Menentu"Jadi bagi Donald Trump, Islam dan Mohammad sama-sama menjadi bahan ejekan. Hal ini tentu jelas tidak bisa diterima oleh umat Islam karena hal demikian jelas-jelas merupakan sesuatu yang menyakitkan," ujar Anwar kepada wartawan, Senin (19/10/2026).
Menurut Anwar, lelucon semacam itu jelas merendahkan martabat Islam. Ia menduga candaan tersebut sengaja dilontarkan Trump untuk menggalang simpati politik.
"Tujuannya tentu adalah untuk mendapatkan simpati dari rakyat dan mitranya yang kebanyakan beragama Kristen, Katolik, dan Yahudi. Kita tahu Donald Trump sering sekali menjadikan Islam sebagai musuh bersama," sambung Anwar.
Baca Juga:Penasihat Desak Trump Serang Iran Sebelum Kongres Baru BertugasAnwar juga menilai sikap negatif Trump terhadap Islam sudah mengakar kuat. "Jadi bagi Donald Trump, kebenciannya terhadap Islam, Nabi Muhammad, dan umatnya sudah merupakan sesuatu yang mendarah daging dalam dirinya sehingga sudah sangat sulit untuk dihilangkan," imbuhnya.
Lelucon Trump dalam Pidato Kampanye
Candaan kontroversial itu dilontarkan Trump saat berpidato di depan para pendukungnya dalam kampanye pemilu sela Amerika Serikat di Dalton, Georgia, Jumat (16/10/2026). Saat menyindir kondisi politik Iran, Trump tiba-tiba membahas cara menebak nama warga Timur Tengah.
"Kalian tahu, jika ragu tentang nama seseorang dari Timur Tengah, panggil saja 'Mohammad'. Peluangnya benar sekitar 65 persen. 'Halo, Mohammad.' Saya sudah melakukannya bertahun-tahun. Tidak pernah salah," kata Trump, seperti dikutip Reuters.
Dalam pidato yang sama, Trump juga mengklaim Iran adalah satu-satunya negara yang tidak ada warganya yang ingin menjadi presiden.
Kritik Juga Datang dari DPR
Kecaman tidak hanya datang dari Muhammadiyah. Sejumlah anggota Komisi I DPR menilai retorika Trump jauh dari etika seorang negarawan dan mendesak Kementerian Luar Negeri mengambil sikap diplomasi yang tegas namun terukur.
Menurut para legislator, nama Muhammad sangat mulia bagi umat Islam sehingga tidak pantas dijadikan bahan komedi oleh pejabat publik mana pun.
Sumber: Detik
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Kemenangan Telak Oposisi Dinilai Bisa Mengubah Arah Konflik yang Kian Tak Menentu

Penasihat Desak Trump Serang Iran Sebelum Kongres Baru Bertugas

Ucapan Selamat yang Mengejutkan Setelah Kekalahan di Pemilu Sela

Pertarungan Sengit Memperebutkan Kendali Parlemen di Tengah Penilaian atas Presiden

Suara Pemilih Berbalik, Penguasa Kehilangan Pijakan di Parlemen

Gelombang Kemenangan Oposisi Mengubah Peta Kekuasaan dan Membuat Jalan Pemerintahan Makin Terjal
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



