Otak Gen Z Dipaksa Lembur Setiap Hari: dari Brain Rot sampai Brain Fry
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Tumbuh di era teknologi digital ternyata membawa harga yang sangat mahal bagi kesehatan mental Generasi Z (Gen Z). Meski sering dicap secara tidak adil sebagai generasi yang "lembek", mereka justru menghadapi gempuran paparan digital, banjir informasi, dan tekanan hidup yang belum pernah dialami generasi-generasi sebelumnya.
Dari kebiasaan menggulir layar tanpa henti hingga tekanan ekspektasi yang menguras tenaga, otak Gen Z seakan dipaksa bekerja lembur setiap harinya. Belakangan, bermunculan berbagai istilah baru untuk menggambarkan kondisi mental yang sangat lekat dengan keseharian generasi ini.
Baca Juga:Gaji Selalu Habis untuk Keluarga? Cara Realistis Menabung bagi Generasi TerjepitBrain Rot: Otak Tumpul karena Konten Singkat
Istilah brain rot atau "otak membusuk" belakangan viral untuk menggambarkan kondisi kognitif yang tumpul akibat terlalu banyak mengonsumsi konten singkat dan tidak berfaedah. Fenomena ini sangat erat kaitannya dengan siklus kecanduan dopamin.
Setiap kali seseorang menggeser video pendek di media sosial, otak melepaskan dopamin, hormon pemicu rasa senang. Sayangnya, siklus instan ini perlahan merusak rentang perhatian (attention span), membuat generasi muda makin kesulitan mencerna informasi yang panjang atau menyelesaikan tugas yang membutuhkan fokus mendalam.
Baca Juga:Memutus Rantai Kemiskinan Dimulai dari Cara Berpikir, Bukan dari Gaji BesarDoomscrolling dan Overstimulation
Pernahkah Anda terjebak membaca rentetan berita buruk di X (Twitter) hingga tengah malam, lalu merasa dada sesak atau cemas setelahnya? Itulah yang disebut doomscrolling, kecenderungan mengonsumsi berita negatif tanpa henti.
Jika digabungkan dengan notifikasi ponsel yang bertubi-tubi, kebiasaan ini memicu kondisi stimulasi sensorik berlebih atau overstimulation. Akibatnya, sistem saraf dipaksa terus berada dalam mode waspada tingkat tinggi (fight or flight), yang pada akhirnya menguras habis energi mental dan memicu kecemasan kronis.
Burnout hingga Brain Fry
Kelelahan fisik, emosional, dan mental yang ekstrem alias burnout kini tak lagi sekadar keluhan biasa di tempat kerja. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah mengklasifikasikan burnout sebagai fenomena pekerjaan global yang resmi.
Di kalangan Gen Z yang harus menghadapi hustle culture, kondisi ini sering memuncak menjadi brain fry atau otak "menggoreng": fase ketika otak terasa benar-benar mogok bekerja karena terlalu lama dipaksa melakukan multitasking dan ketiadaan batas yang jelas antara waktu kerja dan jam istirahat.
Berbagai kondisi ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental generasi digital bukan sekadar label, melainkan persoalan nyata yang lahir dari cara hidup yang selalu terhubung tanpa jeda.
Sumber: Kompas Terkini
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Gaji Selalu Habis untuk Keluarga? Cara Realistis Menabung bagi Generasi Terjepit

Memutus Rantai Kemiskinan Dimulai dari Cara Berpikir, Bukan dari Gaji Besar

Tujuh Langkah Realistis Punya Rumah Meski Gaji Pas-pasan

Sepuluh Kebiasaan yang Membuat Kekayaan Bertahan dari Generasi ke Generasi

Menganggur Lebih dari Setahun, Peluang Kerja Justru Makin Menyempit

45 Komunitas Otomotif Berkumpul, Mobil Lintas Generasi Tampil dalam Satu Panggung
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



