Beras Fortifikasi Medium Diklaim Premium, Bapanas Hitung Kerugian Konsumen Rp 89 Triliun
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
JAKARTA - INTARTA.com - Bareskrim Polri bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas) membongkar dugaan kecurangan produksi dan peredaran beras fortifikasi. Sebanyak 90 persen beras fortifikasi yang ditemukan diklaim sebagai beras premium, padahal faktanya berkategori medium.
Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Bapanas Brigjen Hermawan menyebut masyarakat berpotensi merugi hingga Rp 89 triliun secara nasional akibat praktik curang tersebut.
Baca Juga:Beras Bergizi Palsu Terbongkar, Pemerintah Siapkan Penarikan dari Pasar"Keuntungan ini estimasinya setelah dihitung secara nasional... itu dihitung secara nasional dengan jumlah penduduk dan barang yang beredar itu sekitar Rp 89 triliun," ujar Hermawan dalam konferensi pers di Gedung Bareskrim Polri, Jakarta.
Harga Melambung Jauh dari Seharusnya
Menurut Hermawan, beras medium seharga Rp 13.500 per kilogram seharusnya hanya bertambah Rp 1.000 untuk 1 persen kernel fortifikasi — sehingga harga jual wajarnya Rp 14.500. Namun di lapangan, beras tersebut dijual rata-rata Rp 23.000 hingga Rp 57.000 per kilogram.
Baca Juga:Bunga Pinjaman Ultra Mikro Turun Jadi 8 Persen, Berlaku Permanen"Itu kalau vitaminnya benar, kandungan gizinya benar. Setelah pemeriksaan lab, ternyata kandungan gizinya semuanya tidak benar. Ada 90 persen itu tidak benar," sambung Hermawan. Sebagian produk bahkan tidak mengandung vitamin sama sekali, sementara kandungan zinc dan vitamin B jauh di bawah harapan.
Izin Dicabut, Produk Ditarik dari Peredaran
Sebagai otoritas kompeten keamanan pangan pusat, Bapanas memerintahkan Otoritas Keamanan Kompeten Pangan Daerah (OKKPD) mencabut izin edar, menarik produk dari peredaran, dan menghentikan produksi. Saat ini beras fortifikasi bermasalah sudah tidak ada lagi di pasaran.
Hermawan memastikan stok beras premium di pasar tradisional dan beras medium aman. Di Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC), beras dijual Rp 14.200 per kilogram seiring masifnya bantuan pangan pemerintah — 126.000 ton beras SPHP digelontorkan ke seluruh Indonesia dan bantuan pangan mengalir hingga Desember.
Ia juga menyebut cadangan beras pemerintah (CBP) masih aman sekitar 4,8 juta ton, diperkirakan 3,4–3,5 juta ton pada akhir tahun — meningkat dibanding 3,2 juta ton tahun sebelumnya. Produksi disebut terus berjalan hingga November, bahkan berkelanjutan sampai 2027 di bawah kepemimpinan Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman.
Sumber: Liputan6.com
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Beras Bergizi Palsu Terbongkar, Pemerintah Siapkan Penarikan dari Pasar

Bunga Pinjaman Ultra Mikro Turun Jadi 8 Persen, Berlaku Permanen

Laba Dua Raksasa Dagang Melonjak, Proyeksi Keuntungan Direvisi ke Rekor Tertinggi

Indeks Saham Berbalik Menguat Setelah Sempat Tertekan di Awal Sesi

Ketika Alat Penegak Hukum Diduga Berbalik Mengintai Pejabat dan Warga

Komitmen Investasi Rp2,5 Triliun Mengalir ke Kawasan Industri
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



