Desakan Serangan Baru Mencuat di Tengah Negosiasi yang Masih Alot
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
WASHINGTON - INTARTA.com - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dikabarkan kembali mendesak Presiden Donald Trump untuk menyerang Iran sesaat setelah pemilu paruh waktu digelar pada Selasa (3/11) waktu setempat. Desakan itu disampaikan dalam percakapan telepon pada Sabtu (31/10), menurut sumber yang dikutip Axios.
Dalam pembicaraan tersebut, kedua pemimpin membahas perkembangan negosiasi dengan Iran serta kemungkinan operasi militer baru terhadap Teheran. Sumber Israel menyebut percakapan itu berjalan alot, sebab Trump sejauh ini lebih mengedepankan negosiasi ketimbang serangan.
Baca Juga:Penasihat Desak Trump Serang Iran Sebelum Kongres Baru BertugasNegosiasi Diutamakan, Serangan Tetap Disiapkan
Gedung Putih maupun kantor Netanyahu menolak berkomentar atas laporan tersebut. Sikap Trump sendiri tampak berlapis: di satu sisi ia menyatakan pembicaraan dengan Iran berjalan baik dan tidak perlu terburu-buru mencapai kesepakatan, di sisi lain ia menegaskan kemampuan militernya masih siap digunakan.
"Kami bisa mengurusnya dalam 10 menit. Kami sudah merencanakannya," kata Trump kepada wartawan pada Sabtu (31/10), seraya menyinggung situs nuklir yang masih dianggap ancaman oleh Washington.
Baca Juga:Bantuan Miliaran Dolar Itu Bakal Berhenti di Akhir Tahun, Ini AlasannyaPola serupa pernah terlihat sebelumnya. Trump menjalin negosiasi sambil mempersiapkan serangan besar untuk melemahkan Teheran pada Februari 2026 dan Juni 2025. Pekan lalu, Wakil Presiden JD Vance bahkan mengirim surat kepada Kepala Dewan Keamanan Nasional Iran, Mohsen Rezaei, yang berisi ajakan kembali ke meja perundingan.
Teheran Menegaskan Belum Ada Kesepakatan
Sementara itu, Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada Minggu (1/11) menyatakan belum ada kesepakatan apa pun yang dibuat bersama pihak Amerika. Pernyataan itu menegaskan jarak yang masih lebar antara desakan serangan dan proses diplomasi yang berjalan.
Bagi pembaca di Indonesia, dinamika ini patut diikuti karena ketegangan di kawasan tersebut kerap berimbas pada harga energi dunia dan stabilitas pasar global, termasuk biaya logistik dan harga bahan bakar di dalam negeri. Setiap eskalasi baru berpotensi mengerek harga minyak, sementara jeda diplomasi memberi ruang bagi pasar untuk bernapas. Langkah berikutnya yang paling menentukan adalah apakah negosiasi benar-benar menghasilkan kesepakatan, atau justru memberi jalan bagi operasi militer setelah pemilu paruh waktu usai.
Sumber: CNN Indonesia
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Penasihat Desak Trump Serang Iran Sebelum Kongres Baru Bertugas

Bantuan Miliaran Dolar Itu Bakal Berhenti di Akhir Tahun, Ini Alasannya

Ancaman Perang Baru Kembali Menguat Usai Pemilu

Serangan Kecil yang Melumpuhkan Pertahanan dalam Hitungan Menit

Kemenangan Telak Oposisi Dinilai Bisa Mengubah Arah Konflik yang Kian Tak Menentu

Rudal Pemandu Presisi Bakal Perkuat Helikopter Serang, Kerja Sama Militer Makin Dalam
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



