Kronologi Peretasan Terbesar: Dana Rp114 Triliun Raib dalam Sekejap
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
JAKARTA - INTARTA.com - Platform perdagangan aset kripto Binance mengungkap kronologi peretasan terbesar yang menimpa layanannya, setelah akses tidak sah bermula dari laptop seorang insinyur tim DevOps yang berhasil diretas pelaku.
Dari laptop tersebut, pelaku memperoleh akses ke kontainer layanan dan kemudian melakukan transaksi penarikan yang tidak sah. Richard Teng, Co-CEO Binance, menyebut serangan itu lebih kompleks dibandingkan sekadar penyalahgunaan izin seorang insinyur.
Baca Juga:Dolar Melemah Jelang Pemilu Sela, Bitcoin Mulai Stabil Setelah Peretasan RaksasaAkses Bermula dari Laptop Insinyur
Binance kemudian menangguhkan penarikan dana untuk sementara waktu. Selama penangguhan itu, platform memperbaiki sistem keamanan penarikan dan mencabut otorisasi alamat yang terdampak, agar celah yang sama tidak kembali dimanfaatkan.
Dana Dibekukan dan Kerugian Ditutup
Peristiwa ini berdampak pada aset klien senilai US$6,3 miliar atau sekitar Rp114,4 triliun. Sekitar US$3 miliar atau Rp54,4 triliun di antaranya berhasil dibekukan di blockchain, sementara deposit nasabah dikabarkan tidak terpengaruh saat insiden terjadi.
Pemulihan dilakukan dengan menutup kerugian menggunakan Dana Aset Aman untuk Pengguna (Secure Asset Fund for Users), dana perlindungan yang dirilis pada 2018 untuk menghadapi peretasan. Binance juga bekerja sama dengan penegak hukum dan perusahaan intelijen blockchain untuk melacak dan memulihkan dana yang dicuri.
Bagi pengguna aset kripto di Indonesia, insiden ini menjadi pengingat bahwa pengamanan akun tidak boleh hanya mengandalkan platform. Periksa pengumuman resmi platform, aktifkan verifikasi dua langkah, dan waspadai pesan yang mengatasnamakan pemulihan dana, karena modus penipuan susulan kerap muncul setelah peretasan besar.
Dugaan Pelaku dan Penyelidikan
Biro Investigasi Federal Amerika Serikat (FBI) menyatakan telah mengetahui insiden tersebut dan tengah berkomunikasi dengan mitra publik dan swasta untuk memahami cakupan aktivitas, mengevaluasi dampak, serta mengoordinasikan penyelidikan.
Sejauh ini cara dan identitas pelaku belum diketahui secara pasti. Namun perusahaan intelijen blockchain dan investigasi AI, TRM Labs, menduga adanya keterlibatan peretas asal Korea Utara, dengan menghubungkannya pada peretasan Bybit dan KelpDAO pada April 2026. Platform data blockchain Chainalysis juga menuding Korea Utara dan menyebut kelompok TraderTraitor, yang sebelumnya menargetkan industri mata uang kripto, bursa, protokol DeFi, dan investor, serta terpantau aktif sebelum peretasan terjadi.
Sumber: CNBC Indonesia
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Dolar Melemah Jelang Pemilu Sela, Bitcoin Mulai Stabil Setelah Peretasan Raksasa

OpenAI Kini Bernilai 1,25 Triliun Dolar Usai Raih Dana Segar 11 Miliar Dolar

Ketika Ponsel Pintar Bisa Disadap Tanpa Disadari

Raksasa AI Bersiap Melantai di Bursa di Tengah Gelombang Penolakan Publik

Pengadilan Larang Raksasa Medsos Pakai Konten Pers untuk Latih AI, Denda Miliaran per Hari

Saham Produsen Chip Melonjak Usai Proyeksi Pertumbuhan AI Melampaui Perkiraan
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



