Protes Bendungan Menga Meluas di Arunachal Pradesh, Polisi Kerahkan Pasukan Tambahan
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
ARUNACHAL PRADESH - INTARTA.com - Protes terhadap proyek bendungan di Arunachal Pradesh, India, kembali memanas. Aksi mogok umum selama 12 jam di kota Daporijo pada Senin berubah menjadi bentrokan, di tengah penolakan warga terhadap proyek pembangkit listrik tenaga air Upper Subansiri yang dikenal sebagai Bendungan Menga berkapasitas 1.605 megawatt.
Para pengunjuk rasa menuntut pemerintah menarik proyek itu secara permanen. Mereka khawatir pembangunan bendungan akan memicu perpindahan penduduk secara massal, hilangnya tanah leluhur, kerusakan lingkungan, hingga risiko gempa di wilayah pegunungan timur laut India tersebut.
Baca Juga:Gelombang Aksi Massa Akhir Pekan Kembali Memanas, Puluhan Ribu Aparat DisiagakanBentrokan di Daporijo dan Taliha
Menurut laporan Arunachal Times, ketegangan memuncak selama aksi mogok yang digerakkan organisasi mahasiswa itu. Setidaknya satu kendaraan polisi rusak dan seorang polisi terluka. Pendukung aksi juga disebut merusak kantor yang disewa perusahaan pembangkit listrik tenaga air dan membakar peralatan kantor di dalamnya.
Di desa Taliha, warga menyuarakan penolakan keras terhadap proyek Menga dan kegiatan survei lahan yang menyertainya. Mereka memblokir sebuah jembatan untuk membatasi pergerakan, dan aksi di sana dilaporkan berlangsung damai.
Baca Juga:Puncak Musim Hujan Tiba, Waspada Banjir, Longsor, dan Banjir RobKepolisian setempat menggelar pawai bendera dan mengimbau warga menjaga perdamaian, menurut laporan Times of India.
Pasukan tambahan dikerahkan ke Lembah Siang
Di sisi lain, aparat mengerahkan pasukan tambahan ke kota Pasighat untuk mengantisipasi protes lanjutan. Media NDTV melaporkan puluhan personel Rapid Action Force dikerahkan, ditambah kompi-kompi Central Reserve Police Force dari Assam. Total sekitar 34 kompi Central Armed Police Force disebut berada di kawasan Lembah Siang, sementara Arunachal Times menyebut angka sekitar 30 kompi.
Pengerahan itu menyusul kekerasan di Pasighat pada 23 Oktober, ketika polisi menembakkan gas air mata ke arah pemuda yang memprotes proyek Siang Upper Multipurpose Project (SUMP) berkapasitas 11.000 megawatt. Saat itu, pengunjuk rasa disebut membakar gedung dan kendaraan, dan puluhan demonstran ditangkap.
Penolakan terhadap dua proyek bendungan yang berbeda ini menunjukkan betapa sensitifnya isu lahan, lingkungan, dan masa depan masyarakat adat di Arunachal Pradesh.
Meski berbeda proyek, SUMP dan Bendungan Menga sama-sama menuai kontroversi. Warga menilai manfaat listrik dari proyek raksasa itu tidak sebanding dengan risiko kehilangan rumah, lahan, dan ekosistem yang menopang kehidupan mereka selama bergenerasi-generasi.
Sumber: DW News
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Gelombang Aksi Massa Akhir Pekan Kembali Memanas, Puluhan Ribu Aparat Disiagakan

Puncak Musim Hujan Tiba, Waspada Banjir, Longsor, dan Banjir Rob

Sembilan Petugas Ditahan Usai Diduga Aniaya Demonstran

Media Asing Soroti Pengerahan Puluhan Ribu Tentara usai Tiga Jenderal Ditangkap

Hasto Sebut Gibran Kehilangan Legitimasi Moral sebagai Pemimpin Nasional

Utang Membengkak, Biaya Pinjaman Melonjak ke Level Tertinggi Sejak Krisis
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



