Iklan
HiburanArtikel

Mitos atau Fakta Kesehatan? Dokter Bongkar 10 Mitos Populer, dari Cotton Bud hingga Skoliosis

Maya Putri

Oleh

Mitos atau Fakta Kesehatan? Dokter Bongkar 10 Mitos Populer, dari Cotton Bud hingga Skoliosis
Ilustrasi pemberitaan Intarta (Foto: Intarta/Maya Putri)

Reading Comfort

INTARTA.com - Sejumlah mitos kesehatan populer yang selama ini dipercaya masyarakat ternyata tidak sepenuhnya benar. Melalui konten video berdurasi sekitar 22 menit, dr. Tirta membedah satu per satu anggapan keliru tersebut dengan penjelasan medis — mulai dari kebiasaan membersihkan telinga dengan cotton bud, hubungan protein dan kentut, hingga anggapan bahwa pilates bisa menyembuhkan skoliosis.

Berikut rangkuman mitos dan fakta kesehatan yang dibahas:

Baca Juga:Ramalan Zodiak Leo dan Virgo Hari Ini: Jaga Kesehatan dan Manfaatkan Peluang Keuangan

Cotton Bud Bisa Merusak Gendang Telinga: Fakta

Membersihkan telinga menggunakan cotton bud terlalu dalam disebut bisa merusak gendang telinga dan menyebabkan iritasi. Bahkan, kotoran telinga justru bisa terdorong semakin ke dalam sehingga meningkatkan risiko otitis media atau infeksi telinga tengah.

Dokter spesialis THT umumnya menyarankan untuk mengurangi penggunaan cotton bud. Cara membersihkan telinga yang benar adalah hanya pada bagian luar telinga, bukan bagian dalam. Sebab, telinga memiliki mekanisme alami untuk mengeluarkan kotoran dengan sendirinya. Jika kotoran telinga benar-benar mengganggu, sebaiknya langsung periksa ke dokter spesialis THT atau dokter umum yang memiliki alat khusus.

Baca Juga:Tujuh Prinsip Hidup Minimalis yang Tak Ekstrem demi Keuangan Lebih Tenang

Makan Banyak Protein Bikin Kentut Bau: Mitos

Anggapan bahwa semakin banyak mengonsumsi protein maka kentut semakin bau ternyata tidak tepat. Bau kentut lebih ditentukan oleh keseimbangan bakteri di dalam usus, bukan semata-mata jenis makanan yang dikonsumsi.

Jika kentut berbau sangat busuk secara terus-menerus, itu bisa menjadi tanda adanya ketidakseimbangan bakteri dalam usus. Sebaliknya, kentut yang normal menandakan sistem pencernaan bekerja dengan baik.

Menahan Kentut Berbahaya: Tidak Selalu

Menahan kentut pada dasarnya tidak berbahaya karena gas tersebut akan keluar dengan sendirinya. Yang justru perlu diwaspadai adalah kondisi tidak bisa kentut sama sekali — itu bisa menjadi gejala ileus atau gangguan pada usus yang memerlukan tindakan operasi.

Menariknya, kentut justru menjadi penanda kesehatan usus. Setelah seseorang menjalani operasi dengan anestesi total, pertanyaan pertama dokter setelah pasien sadar adalah apakah pasien sudah kentut — karena itu menandakan aktivitas usus sudah kembali normal.

Demam Selalu Muncul di Malam Hari: Ada Penjelasannya

Demam yang kerap memuncak pada malam hari berkaitan dengan ritme sirkadian tubuh. Saat tidur, tubuh melakukan pemulihan secara maksimal dan sistem imun bekerja lebih aktif melawan virus atau bakteri, sehingga suhu tubuh naik.

Obat penurun panas seperti parasetamol diberikan agar demam turun dan pasien bisa tidur nyenyak, karena tidur merupakan kunci utama pemulihan.

Hipertensi Bisa Diturunkan Secara Genetik: Fakta

Penyakit kardiovaskular seperti hipertensi, stroke, dan serangan jantung memang memiliki faktor genetik. Dokter biasanya menanyakan riwayat keluarga — apakah ada anggota keluarga yang meninggal mendadak akibat stroke atau serangan jantung — untuk menilai risiko pasien.

Namun, gaya hidup yang buruk akan mempercepat munculnya gejala. Seseorang dengan bakat genetik yang gemar begadang, jarang berolahraga, dan pola makannya buruk bisa mengalami gejala di usia yang jauh lebih muda dibandingkan orang tuanya.

Suka Ngemil Es Batu Berarti Anemia: Tidak Selalu

Kebiasaan mengunyah es batu tidak selalu menjadi gejala anemia. Gejala anemia defisiensi besi yang khas adalah 3L — lemah, letih, lesu — disertai kelopak mata yang pucat dan kadar hemoglobin yang rendah saat diperiksa.

Rebahan Setelah Makan Bikin Gemuk: Mitos

Tiduran setelah makan tidak serta-merta membuat gemuk, karena proses pencernaan makanan hingga diserap tubuh membutuhkan waktu 6–8 jam. Yang benar, kebiasaan rebahan setelah makan bisa memicu dispepsia atau GERD karena makanan naik kembali ke kerongkongan akibat posisi tubuh yang horizontal.

Olahraga tapi Makan Sembarangan: Tergantung Konteks

Orang yang rajin berolahraga namun tetap makan gorengan tidak otomatis tidak sehat. Penilaiannya tergantung seberapa sering, seberapa banyak, dan bagaimana makanan itu dimasak. Gorengan yang digoreng sendiri dengan minyak zaitun tentu berbeda dengan gorengan kaki lima yang digoreng berulang kali.

Pilates Bisa Menyembuhkan Skoliosis: Mitos

Olahraga seperti pilates tidak bisa menyembuhkan skoliosis atau kelengkungan tulang belakang. Olahraga hanya berfungsi meringankan gejala, menguatkan otot inti di punggung dan perut, serta mencegah kondisi memburuk.

Penanganan skoliosis harus melalui konsultasi ke dokter spesialis ortopedi dan fisioterapi, dengan pemeriksaan rontgen atau MRI untuk menentukan derajat kelengkungan. Renang disarankan karena minim benturan sekaligus menguatkan otot punggung.

Defisit Kalori Tetap Bisa Menambah Massa Otot: Fakta

Dalam kondisi defisit kalori maupun maintenance, massa otot tetap bisa bertambah asalkan asupan protein tercukupi — sekitar 2 gram per kilogram berat badan. Yang dikurangi adalah lemak dan karbohidrat, bukan protein.

Meski demikian, defisit kalori yang terlalu ekstrem membuat tubuh mudah lelah dan emosi tidak stabil karena energi yang berkurang drastis.

Sumber: #suaratirta NGABUBURIT SAMBIL NONTON MITOS & FAKTA KESEHATAN! — Tirta PengPengPeng

Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.

Tambahkan Sekarang →

Topik

i

intarta

Berita & Media

Diskusi

Memuat…

Memuat komentar…