Waspada 'Teman Maya 24 Jam': Anak Rentan Terjebak Ikatan Emosional dengan AI
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
INTARTA.com - Transformasi digital nasional tak hanya soal penguatan jaringan, tetapi juga soal melindungi 70 juta anak Indonesia dari risiko ketergantungan pada kecerdasan buatan (AI). Penerapan regulasi berbasis risiko seperti PP TUNAS menjadi langkah penting pemerintah bersama industri dan tenaga pendidik agar teknologi tidak memangkas kecerdasan sosial anak dan mengikis ikatan emosional dalam keluarga.
Meski AI berpotensi membuka kreativitas dan mempermudah cara belajar, anak-anak dinilai rentan menjadi korban paparan informasi keliru, deepfake, hingga ikatan emosional buatan dengan chatbot. Karakter AI yang selalu ramah, siap mendengarkan 24 jam, dan cenderung selalu mengiyakan pendapat pengguna berisiko perlahan mengikis ikatan emosional antara anak dan orang tua.
Baca Juga:Anggaran Kecerdasan Buatan Karyawan Dipangkas di Tengah Pengetatan BiayaFenomena Curhat ke AI
Pakar digital Enda Nasution menyoroti fenomena anak dan remaja yang makin masif menjadikan AI sebagai tempat meluapkan isi hati. Tantangannya sangat berbeda dibanding era awal internet.
"Kalau dulu kita mengingatkan anak supaya jangan mudah percaya dengan apa yang mereka baca di internet, sekarang mereka bisa bertanya langsung ke AI dan mendapat jawaban yang terdengar sangat meyakinkan. Padahal AI juga bisa salah, bahkan bisa memberikan informasi yang sama sekali tidak benar, tetapi disampaikan seolah-olah benar," kata Enda kepada Republika, Sabtu (17/10/2026).
Baca Juga:Usulan Donor Organ Anak Dicabut Setelah Tuai Kritik KerasMenurut dia, orang tua perlu melatih anak berpikir kritis: tidak langsung memercayai informasi yang dihasilkan AI, memeriksa sumbernya, dan membandingkannya dengan informasi lain. Anak juga perlu memahami bahwa AI tetaplah mesin yang bisa keliru, meski disampaikan dengan bahasa yang meyakinkan.
Bahaya Berbagi Data Pribadi
Anak juga perlu memahami pentingnya menjaga data pribadi saat berinteraksi dengan AI. Respons AI yang ramah dan terkesan memahami bisa membuat anak nyaman menceritakan berbagai hal pribadi — tanpa menyadari informasi itu masuk ke layanan teknologi yang punya ketentuan sendiri soal penyimpanan dan penggunaan data.
"Anak dan remaja bisa curhat ke chatbot, minta nasihat soal hubungan, persoalan keluarga, atau hal-hal yang mungkin sulit mereka ceritakan ke orang lain. Jadi saya rasa sekarang perlu mendapat perhatian khusus, terutama untuk remaja, yaitu ketergantungan emosional kepada AI," kata Enda.
Butuh Kerja Sama Semua Pihak
Melalui kampanye Bijak Ber-AI dan Bijak Bersosmed, anak bisa diberi pemahaman soal menjaga privasi, menangkal hoaks, hingga mencegah ketergantungan emosional pada AI. Perlindungan anak di ruang digital membutuhkan kerja sama orang tua, sekolah, pemerintah, dan perusahaan teknologi.
"Jangan semua dibebankan kepada pengguna. Mereka yang membuat dan menyediakan teknologinya juga harus memikirkan keamanan anak sejak awal," tegas Enda.
Sumber: Republika
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Anggaran Kecerdasan Buatan Karyawan Dipangkas di Tengah Pengetatan Biaya

Usulan Donor Organ Anak Dicabut Setelah Tuai Kritik Keras

Dari Barisan Depan ke Kursi Panas: Raksasa Teknologi Hadapi Era Pengawasan Ketat

Modal Jumbo untuk Startup yang Ingin Mengubah Cara Tim Penjualan Bekerja

Orang Tua Cari HP Aman untuk Anak, Perusahaan Ini Menjawabnya

Sepuluh Siswi SD Diduga Dicabuli di Kolam Renang, Polisi Periksa Terduga Pelaku
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



