Kemenangan Kecil yang Membuka Sedikit Tabir Misi Rahasia Puluhan Tahun
Oleh

Reading Comfort
adjust the font size
AUSTRALIA - INTARTA.com - Upaya membuka dokumen terkait dugaan operasi penyadapan pada 2004 mendapat kemenangan penting. Tribunal peninjau administratif memutuskan sebagian sidang selama tiga hari pada akhir November harus digelar terbuka untuk publik, setidaknya untuk bagian yang tidak tergolong rahasia.
Keputusan itu diambil pada Jumat, setelah pemerintah berargumen bahwa seluruh kisah ini terlalu sensitif sehingga sidang yang terbuka pun sebaiknya tetap tertutup. Pemerintah khawatir seseorang secara tidak sengaja mengucapkan hal yang tidak seharusnya di forum terbuka.
Baca Juga:Setelah 36 Tahun, Arsip Rahasia Era Lama Akhirnya Dibuka untuk PublikTribunal menolak argumen tersebut. Wakil presiden tribunal, Peter Britten-Jones, menilai para pejabat yang akan bersaksi sudah sangat berpengalaman sehingga risiko kebocoran materi bersertifikat rahasia dapat diabaikan.
Perjuangan Transparansi yang Sudah Bertahun-tahun
Permohonan ini diajukan mantan senator Rex Patrick, yang kini aktif sebagai pejuang keterbukaan informasi. Ia meminta dokumen kabinet tahun 2004 yang disimpan Arsip Nasional, yang diduga berkaitan dengan strategi negosiasi perbatasan laut dan ladang gas Greater Sunrise yang nilainya diperkirakan lebih dari 50 miliar dolar.
Baca Juga:Setelah Dua Dekade Menjaga Perdamaian, Ribuan Pasukan Mulai Ditarik PulangPemerintah dan dinas intelijen luar negeri ASIS tetap memakai jawaban Glomar: tidak mengonfirmasi maupun membantah apakah penyadapan itu terjadi dan apakah dokumen terkait ada. Menurut ASIS, sekadar mengakui keberadaan dokumen saja bisa merusak keamanan nasional dan hubungan dengan negara lain.
Dalam sidang pendahuluan pekan lalu, pengacara pemerintah mengusulkan media dan publik dilarang menghadiri sidang terbuka, tetapi boleh membaca transkrip setelah ditinjau oleh dinas intelijen. Wakil jaksa agung, Justin Davidson, menyebut taruhannya sangat tinggi dan nyaris mustahil mencegah seorang pejabat intelijen salah ucap.
"Hanya ASIS dan Dfat yang menganggap operasi ini masih rahasia," kata Patrick. Ia menyebut skandal ini sebagai rahasia paling terbuka dalam sejarah dunia intelijen, dan menyindir biaya pengacara yang ditanggung wajib pajak untuk mempertahankan kerahasiaan itu.
Akar Skandal Puluhan Tahun
Dugaan operasi itu terjadi pada 2004, ketika petugas disebut memasang alat sadap di kantor-kantor pemerintah untuk mengetahui posisi tawar, taktik negosiasi, dan perbedaan pandangan di dalam kabinet mitra runding. Pada 2006, kesepakatan pembagian hasil ladang Greater Sunrise sebesar 50/50 tercapai.
Operasi itu kemudian terungkap setelah mantan petugas intelijen yang dikenal sebagai Witness K mendatangi pengacara Bernard Collaery pada 2013. Keduanya berusaha membantu sengketa perbatasan maritim di Den Haag, sebelum kantor Collaery digeledah dan paspor Witness K disita.
Sengketa itu ditarik pada 2017 sebagai langkah membangun kepercayaan, dan perbatasan maritim baru ditandatangani pada 2018. Perkara terhadap Collaery akhirnya dihentikan pada 2022. Dalam pernyataan tertulis tahun 2019, Presiden Jose Ramos-Horta menilai pengungkapan penuh justru akan menguntungkan hubungan kedua negara, bukan merugikannya.
Sidang penuh pada akhir November nanti akan mendengar kesaksian Ewan McMillan, wakil direktur jenderal ASIS, dan Michelle Chan, wakil sekretaris kementerian luar negeri. Setidaknya sebagian pembelaan pemerintah tentang alasan menolak membuka detail tahun 2004 kini harus disampaikan di hadapan publik.
Tambahkan Intarta Sebagai Sumber Utama di Google untuk Dapatkan Berita Eksklusif.
Topik
intarta
Berita & Media
Diskusi
Memuat…
Memuat komentar…
Berita Terkait

Setelah 36 Tahun, Arsip Rahasia Era Lama Akhirnya Dibuka untuk Publik

Setelah Dua Dekade Menjaga Perdamaian, Ribuan Pasukan Mulai Ditarik Pulang

Memimpin Perundingan Iklim Dunia di Tengah Sorotan atas Ekspor Batu Bara dan Gas

Misi Baru Demi Menjaga Jalur Pelayaran Tetap Terbuka

Konferensi Keamanan ke-25 Soroti Ancaman Agresi dan Dorongan Reformasi Hukum

Jaksa Agung Bertahan soal Penundaan Tahanan Rumah di Tengah Teguran Istana
Berita Terkini
Lihat Semua


Terancam Dideportasi, Dua Pria Ini Sebut Bakal Diperlakukan 'Seperti Budak'

Penembakan di Alun-Alun Bersejarah Tewaskan Enam Orang, Tiga Jenazah Lain Ditemukan di Rumah Pelaku



